Indramayu (Lensa Pantura) Nasib tragis menimpa delapan pekerja asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang kini terlantar di Papua. Mereka berada dalam kondisi kritis, tanpa uang untuk ongkos pulang, dan terancam kelaparan karena persediaan bekal semakin menipis.
Kisah pilu ini terungkap melalui sebuah video yang dikirimkan oleh salah seorang pekerja bernama Catu Wijaya, warga Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi, Indramayu.
Dalam video tersebut, Catu dengan suara bergetar meminta bantuan kepada Bupati Indramayu Lucky Hakim serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) agar segera dipulangkan.
“Kami terlantar di Papua. Mau pulang tidak punya ongkos. Kami kesulitan di sini karena tidak punya uang,” tutur Catu dalam rekaman video.
Catu menjelaskan bahwa ia bersama tujuh rekannya kini berada di Kawasan Sermayam, Merauke, Papua Selatan. Mereka awalnya berangkat dengan harapan bisa memperbaiki nasib melalui pekerjaan di proyek pembangunan barak Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Batalyon Infanteri Yonif TP 818/YUBOI. Namun, kenyataan yang dihadapi jauh dari harapan: pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana, dan mereka tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman.
Melalui pesan yang disampaikan, para pekerja berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Mereka meminta agar ada koordinasi antara pemerintah Kabupaten Indramayu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pihak terkait di Papua untuk memfasilitasi kepulangan mereka.
Kami ingin segera pulang. Tidak punya ongkos. Tolong kami," tutur Catu dalam video yang dikirimkan ke kerabatnya di Indramayu.
Catu dan teman-temannya mengaku ingin segera pulang. Karena makin lama tinggal di Papua, makin tidak ada harapan karena uang benar-benar habis.
Mereka mengaku makan seadanya. Catu dan pekerja lainnya, terancam kelaparan jika tidak segera diselamatkan.
Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan bagi pekerja migran domestik yang berangkat tanpa kepastian kontrak kerja. Situasi ini juga menegaskan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap perekrutan tenaga kerja di daerah-daerah terpencil. (Jun)



















