Sukabumi, Lensa Pantura – Di balik sorotan panggung dan deretan piala yang menghiasi lemari rumahnya, ada kisah seorang remaja yang tetap sederhana dalam kesehariannya. Ia adalah Rysya Rosyidatu Marwa, akrab disapa Tata, lahir Mei 2014 di Sukabumi, putri dari pasangan Rudi Rustam dan Ny. Yuliasari, kini menempuh pendidikan di SMPN 2 Cicurug Kabupaten Sukabumi.
Meski dikenal sebagai bintang muda seni tari, keseharian Tata tak jauh berbeda dengan teman-teman sebayanya. Pagi hari ia berangkat sekolah dengan seragam biru putih, mengikuti pelajaran dengan tekun. Seusai sekolah, waktunya banyak dihabiskan di sanggar tari.
“Tata selalu berlatih dengan penuh kesungguhan, bahkan ketika teman-temannya sudah pulang,” tutur sang ibu, Ny. Yuliasari.
Di rumah, ia tetap anak yang ceria. Ia membantu orang tua, bercengkerama dengan keluarga, dan sesekali mengulang gerakan tari di ruang tamu. Bagi Lala, menari bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari hidupnya.
Bakat wanita cantik murid dari guru Tari Rudi Kurniawan Pemilik Sanggar Gumintang itu mulai terlihat sejak usia dini. Ketika anak-anak lain sibuk bermain, ia lebih senang menirukan gerakan tari tradisional yang ditonton dari televisi atau acara daerah. Sang ayah, Rudi Rustam, menyadari potensi itu dan mendukung penuh dengan mengikutsertakan Tata ke berbagai lomba.
Dari FL2SN tingkat Kabupaten hingga O2SN tingkat Kecamatan, prestasi demi prestasi diraih. Bahkan, Tata pernah menjadi perwakilan Indonesia di ajang WCOPA menuju Las Vegas, sebuah pencapaian yang jarang diraih anak seusianya.
Tata bukan hanya tampil sebagai peserta. Ia pernah dipercaya menjadi juri Queenix bersama produser SCTV/Indosiar Jakarta.
"Itu pengalaman berharga, karena Tata belajar menilai karya orang lain dengan objektif,” kata Rudi Rustam sang Ayah.
Selain itu, ia kerap tampil di berbagai festival, seperti Indokids Festival Bandung dan Codero National Competition Indonesia Maternity Baby & Kid Expo, yang memperluas jejaringnya di dunia seni pertunjukan.
Meski segudang prestasi telah diraih, Tata tetap rendah hati. Di sekolah, ia sering mengajarkan gerakan tari sederhana kepada teman-temannya.
“Tata tidak pernah pelit ilmu. Ia justru senang kalau teman-temannya ikut menari,” ungkap salah seorang guru.
Sikap ini menjadikan Tata bukan hanya bintang di panggung, tetapi juga inspirasi bagi lingkungan sekitar.
Dengan dukungan keluarga dan semangat pantang menyerah, Tata diharapkan terus mengembangkan bakatnya. Ia bercita-cita menjadi penari profesional yang mampu membawa nama Indonesia ke kancah internasional, sekaligus melestarikan seni tari sebagai bagian dari identitas budaya.
Sejak kecil, Tata menunjukkan ketekunan dan kecintaan mendalam terhadap seni tari. Bakatnya yang tidak diragukan lagi telah membawanya meraih sederet penghargaan bergengsi, di antaranya,
Juara FL2SN tingkat Kabupaten
Juara O2SN tingkat Kecamatan
Winner Queenix Got Talent
Juara event International WCOPA sebagai perwakilan Indonesia menuju Las Vegas
Dreams Star Penabur Jakarta
Juara Umum SD, SMP, SMA se-Jabodetabek
Juara Umum Contest Photo Genic
Juara Tari di Museum Bank Mandiri
Semifinalis Galuh Pakuan Cup Seri IX. Adapun juara yang terbaru yang diraih Tata yakni
Juara I Asian Got Talent yang diikuti oleh 7 negara pada 26-28 Juni 2026 lalu. (Jujun)
