Indramayu, (Lensa Pantura) – Kekeruhan air bersih yang kini menjadi sorotan masyarakat pelanggan Perumdam Tirta Darma Ayu (TDA) Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, akhirnya mendapat penjelasan langsung dari Direktur Teknik Perumdam TDA, Jojo Sutarjo, ST. Dalam Kunjungan Kerja (Kunker) Anggota Komisi III DPRD Indramayu di Kantor Cabang Perumdam TDA Jatibarang, pada Kamis 26 Maret 2026, Dirtek Jojo dengan gamblang mengungkap bahwa masalah ini disebabkan oleh kesalahan bahan kimia yang dipesan, sehingga berdampak pada kualitas air bersih yang diterima masyarakat.
Kunjungan kerja yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Indramayu, Suhendri, SH, didampingi Wakil Ketua Kiki Arindi, serta anggota komisi H. Nico Antonio, H. Tatang Sutardi, H. Ruswa, dan H. Durosid, serta hadir juga Direktur Umum Dr. Ir. Sunaryo, S.T., M.T., dan jajaran Manajemen Perumdam TDA pusat dan cabang Jatibarang itu membuat tercengang wakil rakyat yang hadir.
Dalam paparannya, Dirtek Jojo mengungkap bahwa dirinya tidak mengetahui bahan kimia apa yang digunakan untuk proses penjernihan air. Ia menegaskan bahwa sebagai Direktur Teknik, ia tidak pernah dilibatkan dalam pengadaan bahan kimia tersebut. “Saya tidak tahu bahan kimia apa yang digunakan, karena tidak dilibatkan dalam pengadaan. Hal ini jelas menjadi masalah besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jojo menambahkan bahwa kualitas bahan kimia yang digunakan saat ini jauh berbeda dengan bahan kimia sebelumnya. Perbedaan kualitas itu, menurutnya, sangat memengaruhi hasil pengolahan air sehingga masyarakat menerima air yang keruh dan tidak layak konsumsi.
Direktur Teknik, Jojo Sutarjo, mengungkapkan secara jujur bahwa dirinya merasa kurang nyaman ketika harus membahas persoalan tersebut dalam forum resmi dengan tempat yang kurang baik. Ia meminta izin untuk menyampaikan penjelasan yang cukup panjang, sekaligus mengapresiasi paparan awal yang telah disampaikan sebelumnya oleh jajaran manajemen.
Menurut Jojo, salah satu hal mendasar yang perlu dibenahi adalah etos kerja, baik di tingkat cabang, unit, maupun bagian produksi. Ia menekankan pentingnya setiap pegawai untuk benar-benar memahami tugas dan tanggung jawabnya.
“Kita harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Istilahnya, harus ‘kepo’. Saya bisa sampai di posisi ini karena rasa ingin tahu yang besar, bahkan seperti wartawan yang selalu ingin menggali informasi. Ini yang kadang masih kurang di teman-teman,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi internal, terutama adanya mutasi pegawai yang membuat beberapa personel masih dalam tahap penyesuaian di tempat tugas baru. Meski demikian, ia mengingatkan agar hal tersebut tidak menjadi alasan menurunnya kinerja.
Jojo turut menyinggung pola kerja yang dinilainya masih sekadar menjalankan kewajiban tanpa kesungguhan. Ia berharap ke depan ada peningkatan komitmen dan profesionalisme dari seluruh jajaran.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti aspek koordinasi internal, khususnya terkait undangan kegiatan. Ia mengaku kerap tidak dilibatkan sejak awal, termasuk dalam agenda yang melibatkan pihak eksternal seperti asosiasi. Padahal, menurutnya, keterlibatan seluruh direksi sangat penting untuk keselarasan kebijakan.
Lebih lanjut, Jojo menjelaskan secara teknis terkait penurunan kualitas dan kuantitas air. Ia menyebutkan bahwa suplai air baku yang masuk ke wilayah Indramayu berasal dari beberapa sungai, seperti Cilutung, Cipeles, dan Cikeruh. Khusus Sungai Cikeruh, menurutnya, membawa kandungan kapur yang memengaruhi karakteristik air.
Dalam pengolahan air, ia menegaskan bahwa pemilihan bahan kimia tidak bisa sembarangan. Selama ini, pihaknya telah melalui proses panjang trial and error untuk menemukan formulasi yang sesuai, termasuk penggunaan Poly Aluminium Chloride (PAC) dengan pengembangan tambahan seperti polimer dan katalis.
“Setiap bahan kimia punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang sudah teruji di kami harusnya menjadi acuan. Karena karakter air di Indramayu ini berbeda, tidak bisa disamakan dengan daerah lain,” jelasnya.
"Semua kimia bagus, tetapi yang cocok dengan karakter air baku indramayu terbatas, yang sudah teruji dan dipakai itu yang sdh berjalan," tambah Dirtek Jojo.
Menurut pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Pj Dirut Perumdam TDA inipun mengungkapkan bahwa bahan kimia koagulan apapun itu semuanya bagus punya kelebihan dan kekurangan masing-masing tergantung digunakan pada karakter air yang tepat dan karakter air baku.
Sungai Cimanuk juga berbeda karena disuplesi dari beberapa anak sungai diantaranya Sungai Cilutung, cipeles, dan Cikeruh di mana dari cikeruh ada kandungan kapur disaat kekeruha tinggi dibutuhkan bahan kimia khusus yang sudah teruji dan melalui proses trial selama 1 tahun
Dan trail juga dilakukan di dua musim yaitu di musim kemarau di saat kekeruhan rendah dan juga Puncak musim penghujan di saat kekeruhan sangat tinggi.
Pernah mengalami gagal dan pergantian dan juga pengembangan jenis jenis bahan kimia sampai mendapatkan bahan kimia yang cocok digunakan.
Ia juga menyoroti penggunaan bahan kimia baru yang dinilai belum melalui uji menyeluruh di lapangan. Menurutnya, metode uji seperti jar test saja tidak cukup karena tidak mempertimbangkan faktor cuaca dan kondisi riil di instalasi. Idealnya, harus dilakukan plant test selama beberapa hari untuk memastikan efektivitasnya.
Jojo mengungkapkan bahwa kondisi kekeruhan air yang tinggi, bahkan melebihi kapasitas desain instalasi, menjadi tantangan tersendiri. Secara desain, instalasi pengolahan air (IPA) umumnya dirancang untuk menangani kekeruhan hingga 700 NTU. Namun di Indramayu, kondisi bisa mencapai 2.500 NTU bahkan lebih.
Akibatnya, produksi air harus dikurangi dan berdampak pada distribusi. Dalam kondisi ekstrem, bahkan dapat menyebabkan penghentian operasional pompa secara total.
“Kalau sudah di atas 2.500 NTU, produksi pasti turun. Bahkan kemarin sampai terjadi penghentian total. Ini sangat berat, terutama bagi operator di lapangan,” katanya.
Ia menggambarkan beratnya pekerjaan operator yang harus menangani sedimentasi secara manual dalam kondisi darurat, bahkan hingga puluhan katup dalam waktu singkat.
Sebagai langkah perbaikan, Jojo menegaskan pentingnya pelibatan bidang teknik dalam setiap pengambilan keputusan, khususnya terkait pengadaan bahan kimia. Ia mengaku selama ini sering tidak dilibatkan sejak awal, padahal pihak teknik yang bertanggung jawab langsung terhadap operasional.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak bersikap tertutup terhadap inovasi atau penggunaan produk baru. Namun, setiap perubahan harus melalui pembuktian yang jelas dan terukur.
“Kalau memang ada yang lebih baik, silakan dibuktikan. Tapi kalau belum, gunakan yang sudah terbukti. Kita ini sudah punya racikan sendiri sesuai karakter air di sini,” tegasnya.
Jojo juga menyoroti potensi kerugian akibat penggunaan bahan yang tidak tepat, baik dari sisi biaya bahan kimia maupun kehilangan produksi air. Ia memperkirakan kerugian yang timbul bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam waktu singkat.
Menutup penjelasannya, ia berharap ke depan ada perbaikan sistem koordinasi, transparansi dalam pengadaan, serta penguatan peran teknis dalam setiap kebijakan, agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
Sementara itu Ketua Komisi III DPRD Indramayu, Suhendri, menyampaikan kekecewaannya setelah mendengar langsung pengakuan Jojo. Ia menilai keluhan masyarakat pelanggan muncul akibat kesalahan pasokan bahan kimia yang dibeli oleh pihak Perumdam TDA. Sorotan pedas pun ditujukan kepada Direktur Utama Perumdam TDA, Nurpan, yang dianggap tidak menjalin koordinasi dengan jajaran direksi. “Ini jelas menunjukkan lemahnya koordinasi internal. Akibatnya, masyarakat yang dirugikan,” tegas Suhendri.
Menurut Ketua Komisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyatakan bahwa kekeruhan air bersih membuat masyarakat pelanggan kecewa dan terpaksa mencari alternatif lain, seperti membeli air galon untuk kebutuhan minum dan memasak. Kondisi ini menambah beban ekonomi rumah tangga, terutama bagi mereka yang bergantung penuh pada pasokan air Perumdam.
Kesalahan teknis dalam pelayanan publik terbukti dapat berimbas besar pada masyarakat. Tidak hanya menurunkan kepercayaan terhadap institusi penyedia layanan, tetapi juga menimbulkan keresahan sosial.
"Komisi III DPRD Indramayu akan terus mengawasi kinerja Perumdam TDA. Mereka berharap Direktur Utama Nurpan segera melakukan pembenahan menyeluruh agar kualitas air kembali normal dan kepercayaan masyarakat dapat dipulihkan," harapnya.
Kesalahan teknis dalam pelayanan publik bukan sekadar masalah internal perusahaan, melainkan persoalan serius yang langsung dirasakan masyarakat. DPRD hadir sebagai pengawas agar Perumdam lebih profesional, transparan, dan bertanggung jawab. (Jun)





















