Imbas Keracunan MBG: Ribuan Siswa Terdampak. Orang Tua Siswa Se-Tukdana Bersatu Minta Dapur Segera Dialihkan



INDRAMAYU, LENSA PANTURA — Kasus keracunan massal yang menimpa 105 siswa SMAN 1 Tukdana usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala 2 kini berdampak meluas ke seluruh wilayah Kecamatan Tukdana. Ribuan penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan ikut terdampak kecemasan, meski tidak semuanya langsung menjadi korban sakit.

Kekhawatiran tidak hanya dirasakan keluarga siswa SMAN 1 Tukdana. Orang tua siswa Sekolah Dasar, Taman Kanak-Kanak, hingga Pendidikan Anak Usia Dini di seluruh Kecamatan Tukdana turut diliputi kegelisahan. Kendati anak-anak mereka tidak terkena keracunan secara langsung, rasa takut menghantui setiap wali murid.

Seorang perwakilan orang tua siswa SD di wilayah Tukdana menyampaikan perasaan yang sama

"Anak saya tidak sakit, tapi setiap kali jam makan tiba, saya selalu cemas. Bagaimana jika giliran anak saya? Kami tetap butuh program ini, tapi bukan dari dapur yang sama. Semua orang tua yang saya kenal sepakat ganti dapur penyalurnya sekarang juga."ujar Rumyati warga Desa Kerticala 7 Oktober 2026.

Tidak kurang dari ribuan siswa di lingkungan Kecamatan Tukdana yang selama ini bergantung pada pasokan dari dapur SPPG Kerticala 2 kini menanti kejelasan. Mulai dari jenjang PAUD, SD, hingga SMA — semuanya terhenti atau diliputi keraguan menerima makanan yang disalurkan.

Salah satu orang tua siswa SMAN 1 Tukdana, Carimin, menegaskan aspirasi warga pihaknya tetap berharap MBG masih berjalan. Ia tidak ingin anak-anak kehilangan asupan bergizi. Tapi memohon kepada BGN, segera tentukan dapur pengganti. Jangan biarkan ribuan anak tidak mendapat jatah hanya karena satu dapur bermasalah.

"Soal sanksi hukum terhadap SPPG Kerticala 2 biarkan berjalan. Yang kami butuhkan sekarang: dapur baru yang terjamin kebersihan dan keamanannya."ungkap Carimin. 

Masyarakat juga menyoroti kinerja pengawas di lapangan. Koordinator Wilayah (Korwil) maupun Koordinator Kecamatan (Korcam) dinilai tidak kooperatif dan tidak jeli sejak awal sehingga dapur yang notabene kecil namun diberi jatah penerima manfaat sebanyak 3000 ompreng.  Penilaian dari sisi mana dengan luas bangunan dapur SPPG nya kecil namun penerima manfaatnya banyak.  Warga berharap BGN segera mengevaluasi petugas pengawas tersebut.

Hingga kini, hasil uji laboratorium sampel makanan masih dalam proses pemeriksaan BPOM. Pemerintah Kecamatan Tukdana terus memantau kondisi korban sekaligus mengawal agar pasokan makanan aman bagi ribuan siswa segera terjamin kembali. Seluruh warga menanti kepastian: kapan dapur pengganti ditetapkan dan kapan anak-anak dapat kembali menerima MBG tanpa rasa cemas. (Jun) 

 

Lebih baru Lebih lama