Materi : MENULIS FEATURE Bencana dan Sampah : Dua Wajah Krisis yang Saling Berkaitan


Nama Peserta : Jujun Juhanda 
Nama Pemateri : Ati Suprihatin
Tanggal : 13 Februari 2026
Tempat : Hotel Horison Bandung

Bencana dan Sampah : Dua Wajah Krisis yang Saling Berkaitan

Bandung - Pantura Headlines
Di banyak daerah di Indonesia, bencana alam kerap datang tanpa permisi. Banjir, longsor, hingga kebakaran hutan menjadi ancaman nyata bagi masyarakat. Namun di balik itu, ada satu persoalan yang sering dianggap sepele dan justru memperparah dampak bencana akibat tumpakan sampah. 

Ketika hujan deras mengguyur, tumpukan sampah yang menutup saluran air membuat banjir semakin parah. 

Sungai yang seharusnya menjadi jalur aliran air, berubah menjadi lautan plastik dan limbah rumah tangga. Akibatnya, bencana yang seharusnya bisa diminimalisir justru menjadi lebih besar. Semua itu karena ulah tangan kotor yang enggan untuk hidup bersih. 

Seorang warga RT 003 RW 005 Desa Pekandangan Jaya Kecamatan Indramayu Kabupaten Indramayu Jawa Barat,  H. Kasdol yang alamat rumahnya berada di kawasan rawan banjir pernah berkata, “Kami sudah terbiasa dengan banjir, tapi yang paling menyakitkan adalah melihat sungai penuh sampah. Air meluap bukan hanya karena hujan, tapi karena saluran irigasi yang tersumbat akibat tumpukan sampah karena ulah manusia yang jorok”

Fenomena ini menunjukkan bahwa bencana dan sampah adalah dua wajah krisis yang saling berkaitan. Sampah bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah sosial dan budaya. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah memperbesar risiko bencana.

Padahal Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah memberikan contoh sambil ia turun langsung ikut membersihkan sampah di sepadan sungai Bekasi. Namun sangat disayangkan contoh yang dilakukan oleh KDM berjulukan Bapa Aing itu belum dapat dicerna dengan baik oleh masyarakatnya. 

Di tengah ancaman inilah, muncul seorang tokoh dari komunitas lokal yang mengajak warga untuk agar lebih peduli.
Salman, salah satu tokoh masyarakat terkemuka di Kabupaten Indramayu sekaligus Ketua RW 007 Desa Pekandangan, hatinya bergerak untuk menyelesaikan persoalan sampah yang diawali dari program bank sampah.

Gotong royong membersihkan sungai, hingga edukasi anak-anak tentang pentingnya memilah sampah. Langkah sederhana ini diharapkan bisa menjadi benteng pertama dalam menghadapi bencana banjir yang kerap menyakitkan bagi masyarakat Pekandangan Kabupaten Indramayu. 

Meskipun Salman mengakui bahwa dirinya tidak mudah membawa gagasan atau ide peduli sampah ini berjalan dengan baik. Namun pria tinggi besar keturunan  Arab ini tidak akan putus asa jika program ini akan terbangun dari kita untuk kita. 

"Saya sempat melamun, apakah program peduli sampah ini akan berjalan dengan baik. Namun tidak ada salahnya jika semua ini harus dicoba dengan harapan dapat berjalan dengan sukses"
Saat semua program dijalankan dengan baik, Salman dibuat terkesima oleh keindahan dan keaslian pemandangan di lingkungannya. Bank sampah buatan warga lokal yang dikelola melalui komunitas Senang Hati Bersama milik Salman ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Tak hanya sebagai penggiat peduli lingkungan, komunitas ini juga menjadi pusat edukasi kesehatan yang inspiratif.

Bencana memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa dikurangi. Sampah yang dikelola dengan baik bukan hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga menjadi kunci untuk mencegah bencana semakin parah.
Lebih baru Lebih lama